Konflik antara Iran dan Israel adalah salah satu titik api paling membara dalam lanskap geopolitik global modern. Apa yang dulunya merupakan hubungan pragmatis sebelum 1979, kini telah bermutasi menjadi permusuhan eksistensial yang kerap kali menyeret kekuatan-kekuatan besar dunia. Untuk memahami eskalasi konflik ini secara utuh, kita tidak bisa hanya melihatnya dari satu sisi. Ketegangan ini adalah hasil dari jalinan rumit antara ambisi kekuasaan (politik) dan keyakinan ideologis (agama).
Dimensi Politik: Geopolitik, Proksi, dan Hegemoni Kawasan
Dari sudut pandang politik dan Hubungan Internasional, konflik Iran dan Israel adalah wujud nyata dari perebutan hegemoni di kawasan Timur Tengah.
Arsitektur Keamanan dan Perebutan Pengaruh: Israel, yang didukung secara penuh oleh Amerika Serikat dan sekutu Baratnya, berusaha mempertahankan superioritas militer dan status quo di Timur Tengah. Di sisi lain, Iran berusaha mendobrak arsitektur keamanan tersebut dan menempatkan dirinya sebagai kekuatan dominan secara regional.
Strategi Perang Proksi (Proxy War): Secara historis, kedua negara menghindari perang konvensional secara langsung karena risiko kehancuran massal. Sebagai gantinya, Iran membangun "Poros Perlawanan" (Axis of Resistance) dengan mendanai, melatih, dan mempersenjatai aktor-aktor non-negara seperti Hizbullah di Lebanon, Hamas di Gaza, dan Houthi di Yaman. Israel merespons strategi ini dengan kampanye militer preemptif, sabotase, dan serangan target terukur terhadap perwira tinggi militer Iran dan infrastrukturnya.
Ancaman Eksistensial Program Nuklir: Bagi Israel, program nuklir Iran adalah "garis merah" yang mengancam eksistensi negaranya. Sebaliknya, bagi Iran, kemampuan nuklir (entah untuk tujuan damai atau senjata) adalah instrumen penggentar (deterrence) yang paling efektif untuk mencegah invasi asing dan menjaga keberlangsungan rezim di dalam negeri.
Politik Domestik: Ketegangan eksternal sering kali dimanfaatkan oleh elite politik di kedua negara. Di tengah tekanan ekonomi atau krisis kepercayaan dari rakyatnya, narasi menghadapi "musuh eksternal" menjadi alat yang ampuh untuk menyatukan faksi-faksi politik domestik dan membungkam kelompok oposisi.
Dimensi Agama: Ideologi, Teologi, dan Klaim Tanah Suci
Meskipun fondasinya sangat politis, bahan bakar yang menjaga konflik ini tetap menyala adalah dogma dan narasi agama. Agama memberikan legitimasi moral yang tidak bisa diberikan oleh geopolitik semata.
Revolusi Islam 1979 dan Identitas Anti-Zionis: Titik balik permusuhan ini terjadi setelah Revolusi Islam Iran tahun 1979. Ayatollah Ruhollah Khomeini mengubah arah negara tersebut menjadi teokrasi yang menolak keras keberadaan Israel. Dalam doktrin kenegaraan Iran pasca-revolusi, Israel tidak diakui sebagai sebuah negara merdeka, melainkan "entitas Zionis" yang menjajah tanah umat Islam.
Pembebasan Al-Aqsa sebagai Misi Suci: Yerusalem (Al-Quds) menempati posisi yang sangat sakral dalam eskatologi Islam. Iran mengambil peran sebagai pembela utama perjuangan Palestina lintas sektarian (meskipun Iran mayoritas Syiah dan Palestina mayoritas Sunni). Dukungan terhadap Palestina dibingkai bukan sekadar sebagai pembebasan wilayah, tetapi sebagai kewajiban religius untuk merebut kembali tempat suci umat Islam.
Klaim Historis dan Biblikal Israel: Di sisi Israel, narasi kenegaraan mereka sangat terikat dengan klaim historis dan janji teologis dalam kitab suci Yudaisme. Keberadaan negara Israel dipandang oleh kelompok-kelompok religius Zionis sebagai pemenuhan janji Tuhan. Hal ini membuat kompromi teritorial menjadi sangat sulit, karena menyerahkan wilayah dianggap sebagai pelanggaran terhadap ketetapan ilahi.
Narasi Eskatologis (Akhir Zaman): Di tingkat akar rumput dan retorika para pemimpin ekstrem, ketegangan ini sering dibumbui dengan narasi apokaliptik akhir zaman. Frasa-frasa yang berkaitan dengan peperangan suci, kedatangan Mesias, atau pertempuran melawan Dajjal kerap digunakan untuk memobilisasi emosi massa.
Irisan yang Sulit Dipisahkan
Pada akhirnya, dalam konflik Iran-Israel, politik dan agama adalah dua sisi dari koin yang sama. Kepentingan politik dan geopolitik dibungkus menggunakan bahasa dan simbol agama untuk menggalang dukungan publik. Sebaliknya, doktrin-doktrin agama menetapkan batasan-batasan politik yang tidak boleh dilanggar oleh para pembuat kebijakan di kedua belah pihak.
Memahami konflik ini murni sebagai "perang agama" adalah sebuah penyederhanaan yang keliru, namun mengabaikan dimensi agama dan menganggapnya murni perebutan wilayah politik juga akan membuat kita gagal memahami mengapa konflik ini begitu mendarah daging dan sulit diredam.

0 Komentar